Kingland is not a new comer in the motorcycle tire industry/ Kingland Bukan Pemain Kemarin Sore di Industri Ban Motor

GridOto.com – Maybe some of you are still unfamiliar with this motorcycle tire brand, Kingland.

But who would have thought, the original product made by the nation’s children has existed for more than 40 years in Indonesia.

As expressed by Harris Muliawan, as the director of PT King Tire Indonesia (Kingland) in the rubric this time.

“So we stood since 1977 in Jatiuwung, Tangerang right across from Sabar Subur Jatiuwung,” said this bespectacled man when met with GridOto.com some time ago.

(Also Read: Blunt Moeljadi: Getting to Know Sato, Maker of Robotic Car Wash)

“That is about 5 hectares of our factory, and we used to produce motorbikes,” he added.

Even so, the name falls in developing a business can be experienced by anyone.

It doesn’t matter whether it’s a beginner entrepreneur or an experienced one.

“Because the 1997-1998 crisis finally stopped production for external tires, and in 1998 we were working on inner tube production,” Haris said.

“Indeed, when it hit the crisis it was quite felt for us, so production at that time was only one shift,” he continued.[:id]

GridOto.com – Mungkin sebagian dari kalian masih awam dengan merek ban motor satu ini, Kingland.

Namun siapa sangka, produk asli buatan karya anak bangsa ini sudah eksis lebih dari 40 tahun lamanya di Indonesia.

Seperti yang diungkapkan oleh Harris Muliawan, selaku direktur dari PT King Tire Indonesia (Kingland) di rubrik blak-blakan kali ini.

“Jadi kami berdiri sejak tahun 1977 di Jatiuwung, Tangerang pas di seberang Sabar Subur Jatiuwung,” ujar pria berkacamata ini saat ditemui GridOto.com beberapa waktu lalu.

(Baca Juga : Blak-blakan Moeljadi: Mengenal Sato, Pembuat Robotic Car Wash )

“Itu pabrik kami kurang lebih seluas 5 hektar, dan itu kami dulu awalnya memproduksi ban luar (motor),” imbuhnya.

Meski begitu, namanya jatuh bangun dalam mengembangkan usaha bisa dialami oleh siapa saja.

Tidak peduli itu pengusaha pemula ataupun yang sudah berpengalaman.

“Karena krisis 1997-1998 akhirnya stop produksi untuk ban luar, dan 1998 kami jalan untuk produksi ban dalam,” kata Haris.

“Memang pada saat kena krisis itu cukup terasa buat kami, jadi produksi pada saat itu sampai hanya 1 shift saja,” lanjutnya.[:]